Toxic Productivity


Hi there! Di blog kali ini gue akan bahas satu topik yang sangat relate dengan kehidupan para mahasiswa. Pastinya kalian sudah mengenal tentang topik yang satu ini yaitu "Toxic Productivity". Nah ini adalah salah satu istilah yang populer semenjak pandemi dan dampaknya juga cukup berpengaruh loh. 

Apa itu Toxic Productivity? 

Disini gue akan ngajak kalian untuk mengenal tentang Toxic Productivity terlebih dahulu. Melansir dari Kumparan.com, menurut Dr. Julie Smith, seorang psikolog dari Inggris, toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk terus menerus mengembangkan diri dan merasa bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal.

Dr. Smith mengatakan bahwa salah satu sumber tekanan harus menjadi produktif datang dari media sosial. Para pengguna medsos seakan-akan berkompetisi dengan orang lain untuk membagikan kegiatan atau hal baru yang dikerjakan. Tanpa sadar, mereka akhirnya mengukur kelayakan diri berdasarkan produktivitas yang telah dikerjakan. Nah pastinya kalian disini sudah ada gambaran mengenai Toxic Productivity itu sendiri dan gue akan bahas beberapa ciri-cirinya! 

1. Bekerja berlebihan hingga membahayakan kesehatan 

Point pertama ini menurut gue point yang paling penting untuk kalian sadari. Ciri-ciri orang mengalami toxic productivity yaitu bekerja berlebihan hingga mengalami gangguan kesehatan, seperti sakit fisik bahkan sampai mengalami stres.  

Berdedikasi pada pekerjaan tentu adalah hal yang positif. Tapi jika kita bekerja terlalu keras kalau sampai mengabaikan kebutuhan utama sebagai manusia seperti makan, minum, tidur, atau bahkan mandi, hal ini bisa jadi hal yang nggak sehat loh! 

2. Merasa kesulitan dan merasa bersalah ketika beristirahat

Mereka yang mengalami Toxic Productivity bakal ngerasa bersalah ketika mereka untuk memutuskan untuk beristirahat walaupun hanya sebentar. Mereka bahkan merasa gelisah dan hampa jika berlama-lama beristirahat, karena menganggap istirahat adalah hal yang tidak produktif.

Selain itu, mereka juga merasa tidak berguna ketika tidak melakukan atau mengerjakan sesuatu, bahkan cenderung membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dirasa lebih produktif.

3. Ekspetasi yang tidak realistis 

Nggak sedikit orang-orang yang berharap bahwa tingkat produktivitas mereka bakal sama seperti sebelum pandemi Covid-19. Padahal realitanya, banyak kegiatan mahasiswa yang terhambat karena pandemi, seperti tidak bisa masuk kuliah seperti biasa, belum bisa dengan bebas aktif dalam organisasi, dan lain sebagainya.

Hal tersebut menimbulkan keresahan bagi orang-orang yang mengalami toxic productivity. Mereka tidak bisa menyalurkan hal-hal yang mereka anggap akan meningkatkan produktivitas mereka.

Menurut gue, Toxic Productivity bukan suatu hal yang patut di normalisasikan. Lebih baik menjalankan produktif yang sehat yaitu yang sesuai dengan porsinya. Bukan yang berlebihan sampai-sampai lupa istirahat sampai merasa bersalah ketika istirahat setelah melakukan banyak hal. 

That is all from me. I sincerely appreciate your attention to read to my blog and i would like to apologize if there is a mistake. Thank you so much for coming. I hope you have a nice dayyy!!

Mind Map: https://drive.google.com/file/d/1XRIX5LPAhkyxYYUeAICncAQrXhplWBbQ/view?usp=drivesdk

Video Presentasi: https://youtu.be/SLVbgt5CMLI




 

Komentar